Selasa, 08 April 2014

Kenali Apa saja Tanda-tanda Kanker

Wanita memang lebih peduli akan kesehatannya. Mereka juga berhati-hati dan mau memeriksakan diri bila menemui gejala yang aneh pada tubuhnya. Kepedulian seseorang pada kesehatannya juga berkaitan dengan usia.

Bicara tentang gejala-gejala yang aneh pada tubuh, berikut adalah tanda-tanda kanker yang perlu diwaspadai. Meski tidak spesifik, tetapi gejala berikut biasanya diikuti dengan tanda-tanda lain. Yang perlu diperhatikan adalah, makin dini diketahui, makin besar peluang kanker disembuhkan.

1. Berat badan turun tanpa sebab jelas
Setiap wanita pasti ingin berat badannya turun tanpa perlu capek berusaha. Tetapi, berat badan yang anjlok dalam sebulan tanpa usaha diet atau olahraga, perlu diwaspadai.


2. Bengkak di perut
Munculnya bengkak di perut bisa dicurigai sebagai tanda kanker ovarium. Tanda lain yang menyertai adalah sakit di bagian perut atau sakit di bagian panggul, gangguan berkemih dan mudah merasa kekenyangan meski makan sedikit. Waspadai gejala bengkak, terutama bila menetap lebih dari seminggu.

3. Payudara berubah
Walau tidak rutin melakukan pemeriksaan sendiri, pada umumnya mengenali kondisi payudaranya. Karena itu, jangan anggap enteng bila muncul tanda kemerahan atau benjolan di payudara. Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah perubahan pada puting, muncul cairan (pada wanita yang sedang tidak menyusui) apalagi yang disertai rasa gatal.

4. Perdarahan
Perdarahan yang timbul di antara waktu periode menstruasi sebaiknya perlu dicek ke dokter. "Bila sebelumnya tidak pernah muncul vlek darah dan sekarang tiba-tiba ada, maka itu bisa jadi sesuatu yang abnormal," kata Debbie Saslow, Phd, direktur kanker payudara dan ginekologi dari American Cancer Society.

5. Kulit berubah
Hati-hati dengan tahi lalat atau benjolan di kulit. Jika makin melebar, tidak simetris, warna tidak merata atau berkoreng, ada kemungkinan hal itu merupakan kanker kulit. Penyebab utama kanker kulit adalah sinar ultraviolet dan zat kimia, juga infeksi human papiloma virus.

6. Sulit menelan
Keluhan sulit menelan biasanya terkait dengan gangguan pada tenggorokan. Namun, gejala sulit menelan juga bisa menjadi tanda dari masalah yang lebih serius, seperti kanker usus besar.Meski tidak spesifik, tapi kanker saluran cerna pada stadium dini seringkali memiliki gejala nyeri ulu hati, sulit menelan, muntah darah, penurunan berat badan, perdarahan saluran cerna, dan anemia.

7. Perubahan di mulut
Menurut Perkumpulan Kanker Amerika, para perokok perlu mewaspadai munculnya bercak putih di lidah atau plak pada mukosa mulut, karena bisa menjadi tanda kondisi pra kanker yang disebut leukoplakia yang bisa berkembang menjadi kanker mulut.

8. Batuk berdarah
Gejala kanker paru dapat berupa batuk, sesak napas, dan dahak yang berdarah. Gejala yang timbul dari kanker paru biasanya sesuai dengan penyebaran kanker di organ tubuh yang terkena. Misalnya bila menyebar ke otak, ia dapat menimbulkan nyeri kepala, kejang, atau gangguan kesadaran. Sedangkan pada tulang, bisa menyebabkan nyeri dan patah tulang.

9. Demam tak jelas
Jika anak lesu dan pucat, demam yang tidak jelas penyebabnya, mengalami perdarahan di kulit atau gusi, ada benjolan di tubuh atau kepala, nyeri pada anggota gerak, perut bengkak atau keras, sebaiknya orangtua waspada dan segera membawanya ke dokter. Bisa jadi hal itu merupakan gejala leukimia (kanker darah) atau kanker limfoma (kelenjar getah bening).

sumber

Kamis, 03 April 2014

Kasus Kanker Payudara dan Serviks semakin meningkat di Indonesia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2005 memprediksikan kematian akibat kanker sebanyak 7 juta jiwa di dunia. Sedangkan kasus baru sebanyak 11 juta, dan yang masih hidup dengan kanker sebanyak 25 juta orang.
Tetapi pada tahun 2030, jumlah ini akan meningkat drastis. Kematian meningkat tiga kali lipat, yaitu 17 juta orang, kasus baru menjadi 27 juta orang, dan yang hidup dengan kanker naik 75 juta orang. Sementara
di Indonesia, orang yang meninggal karena kanker meningkat 200% dan yang hidup dengan kanker 300%. Sementara 70% negara di dunia adalah negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat dari sekian banyak kanker yang menyerang penduduk Indonesia, kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks) tertingi kasusnya di seluruh Rumah Sakit (RS).
Berdasarkan Sistem Informasi RS (SIRS), jumlah pasien rawat jalan maupun rawat inap pada kanker payudara terbanyak yaitu 12.014 orang (28,7%) dan kanker serviks 5.349 orang (12,8%).

Baru disusul kanker leukimia sebanyak 4.342 orang (10,4%, lymphoma 3.486 orang (8,3%) dan kanker paru 3.244 orang (7,8%). Sementara berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di Indonesia sendiri sudah mencapai 1,4 per 1000 penduduk, dan merupakan penyebab kematian nomor tujuh.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemkes, dr Ekowati Rahajeng, mengungkapkan permasalahan kanker di Indonesia tidak jauh berbeda dengan negara berkembang lainnya, yaitu sumber dan prioritas penanganannya terbatas. Penanganan penyakit kanker di Indonesia menghadapi berbagai kendala yang menyebabkan hampir 70% penderita ditemukan dalam keadaan sudah stadium lanjut.

Secara nasional, tema Hari Kanker Sedunia tahun 2014 mengangkat soal mitos yang menjadi salah satu kendala penanganan kanker di Indonesia. Padahal, menurut Ekowati , lebih dari 40% dari semua kanker dapat dicegah. Bahkan beberapa jenis yang paling umum, seperti kanker payudara, kolerektal, dan leher rahim dapat disembuhkan jika terdeteksi dini.
Bahkan kanker tidak harus menjadi genetik murni karena bisa dicegah apabila menghindari faktor risikonya, seperti terpapar asap rokok, diet rendah serat, paparan sinar ultraviolet, dan berhubungan seksual yang tidak sehat.

Dari seluruh penduduk berusia 30 sampai 50 tahun yang berisiko tinggi sebanyak 36,7 juta lebih, yang  mendapatkan deteksi dini baru 1,75% atau 644.951 jiwa. Padahal target pemerintah adalah 80%.

Di samping itu, keterbatasan masyarakat untuk memperoleh pengobatan yang berkualitas karena masalah ekonomi dan transportasi juga menjadi kendala. Namun, kini masyarakat tidak perlu khawatir kerena adanya
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) semua pemeriksaan dan pengobatan kanker di fasilitas kesehatan dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Selain itu, faktor sosial kultur masyarakat yang tidak menunjang, seperti percaya pada pengobatan alternatif, tradisional atau dukun juga menjadi kendala.

Sementara Ketua Umum Perhimpunan Onkolog Indonesia (POI), Drajat Suardi, mengatakan penyakit kanker di Indonesia masih seperti fenomen gunung es. Hanya sedikit kasus yang terungkap, tetapi kondisi riilnya jauh lebih besar dan tidak terjangkau.


Untuk penanganan kanker di Indonesia, Ekowati menambahkan, diprioritaskan pada jenis yang tertinggi. Kegiatan penemuan kasus kanker terutama dilakukan melalui deteksi dini pada stadium awal, sehingga lebih cepat diobati dan peluang sembuh lebih besar.

Sedangkan skrining ditujukan kepada orang ytang asimptomatik (tidak bergejala), sehingga dapat diobati sebelum menjadi kanker. Contohnya, kanker serviks dilakukan skrining dengan metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk menemukan lesi prakanker.

Program ini, lanjut Ekowati, disertai dengan penemuan dan tatalaksana kanker serta program paliatif kanker guna meningkatkan kualitas hidup, juga memperpanjang umur harapan hidup penderita stadium lanjut.

Untuk deteksi dini kanker serviks dan payudara dilakukan melalui pemeriksaan IVA dan Clinical Breast Examination (CBE). Sampai saat ini sudah terlaksana di 32 provinsi, 207 kabupaten, dan 717 puskesmas.

Kemkes juga menciptakan pelatih yang akan melatih tenaga puskesmas untuk siap melakukan deteksi dini. Saat ini sebanyak 184 pelatih yang disiapkan.

Selasa, 18 Maret 2014

Waspadai Gejala Kanker Ovarium


Kanker Ovarium atau kanker indung telur seringkali terlupakan oleh kita. Padahal, kanker ovarium menduduki peringkat ketiga kanker tersering pada wanita setelah kanker payudara dan kanker serviks (leher rahim). Beberapa tokoh yang mengidap penyakit ini dan akhirnya tutup usia karena perjalanan penyakit ini adalah Ibu Ainun, istri Bapak Habibie dan Ibu dari artis Holywood Angelina Jolie. Bahkan, keputusan Angelina Jolie untuk melakukan operasi pengangkatan kedua payudaranya didasari karena kekuatirannya terhadap sejarah medis Ibunya yang mengidap kanker ovarium.
Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian nomor enam. Setiap tahun terdapat 100 kasus penderita kanker baru dari 100.000 penduduk di Indonesia. Salah satu kanker yang perlu diwaspadai adalah kanker ovarium.
Kanker ovarium ini sering terlupakan karena memang seringkali tidak memberikan gejala di awal-awal dan sampai saat ini belum ada metode deteksi dini yang mudah dilakukan seperti SADARI (periksa payudara sendiri) atau mamografi pada deteksi dini kanker payudara atau papsmear atau tes IVA (Inspeksi Asam Asetat) pada deteksi dini kanker serviks. Diperkirakan, sekitar 70% kasus kanker ovarium baru terdeteksi pada stadium lanjut (stadium 3 atau 4) karena gejala awalnya tidak khas.
Untuk mendiagnosis kanker ovarium, diperlukan serangkaian pemeriksaan dimulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan rongga panggul, pemeriksaan penanda kanker CA-125, ultrasonografi (USG) dan biposi jaringan.

Gejala Kanker Ovarium
Sebagai penyaring kewaspadaan, para wanita diharapkan untuk tidak meremehkan gejala-gejala ringan yang seringkali muncul dan menetap dalam waktu lama, karena gejala kanker ovarium pada stadium awal biasanya hanya berupa gejala-gejala ringan. Gejala kanker ovarium pada wanita yang perlu diwaspadai adalah:
  1. Perasaan kembung yang sering muncul, menetap dan tidak menghilang dalam waktu lama.
  2. Ukuran perut yang bertambah.
  3. Cepat merasa kenyang walau hanya makan sedikit.
  4. Sulit makan karena hilang nafsu makan, mual, dan rasa terbakar di dada.
  5. Nyeri perut.
  6. Nyeri daerah kewanitaan.
  7. Sering buang air kecil dan perubahan pola buang air besar.
  8. Mengalami rasa lelah berlebihan dan/atau nyeri punggung.
Kewaspadaan para wanita perlu semakin meningkat apabila terdapat anggota keluarga yang pernah didagnosis kanker payudara dan/atau kanker ovarium. Pada wanita-wanita yang pernah memiliki riwayat kanker payudara, kanker rahim, atau kanker usus juga perlu mewaspadai kanker ini karena risiko terjadi kanker ovarium semakin meningkat. Kejadian kanker ovarium juga meningkat pada wanita yang berusia di atas 55 tahun, tidak pernah hamil dan sedang menjalani terapi hormon estrogen saja selama lebih dari 10 tahun.

sumber

Selasa, 11 Maret 2014

Pasien Pengidap Kanker Payudara Kian Muda makin banyak

Saat ini Usia penderita kanker payudara kian muda saja dari tahun ke tahun. Kian banyak ditemukan pasien kanker payudara berumur 30-an. Pola makan serta gaya hidup tak sehat bisa jadi penyebabnya. 'Merokok dan mengonsumsi alkohol termasuk pola hidup tak sehat yang banyak dianut masyarakat kita, termasuk kaum perempuan,' kata dr Heru Purwanto SpB Onk, ahli penyakit kanker RSU dr Soetomo. Faktor tersebut diperparah pola makan tinggi lemak, namun minim serat. 

Dalam sebulan, Heru menyatakan menangani 2-3 pasien baru berusia sekitar 30 tahun. Bahkan, ada pasien kanker payudara berusia remaja yang berobat kepadanya. Tapi, jumlahnya tak banyak. 'Dalam setahun, mungkin hanya 2-3 pasien. Meski begitu, fenomena adanya pasien kanker payudara di kalangan remaja ini tetap patut diwaspadai,' imbuhnya. 

Menurut Heru, menderita kanker payudara pada usia muda tentu mengkhawatirkan. Sebab, berdasar literatur yang ada, kanker payudara pada pasien usia muda lebih ganas daripada pada wanita menopause. 'Sayangnya, belum ada penjelasan ilmiah tentang hal tersebut,' katanya.

Wanita yang menderita kanker pada usia 30-an tahun juga dianjurkan tidak hamil. Sebab, saat hamil, pengaruh hormonal tinggi. Kondisi itu bisa memicu kekambuhan. 'Sebaiknya diobati dulu. Jika sudah sembuh total, tiga tahun kemudian baru boleh hamil. Selama itu, pasien harus kontrol ketat ke dokter,' imbuhnya.

Bagaimana bila telanjur hamil Soal itu, Heru mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa. 'Sebaiknya pasien diberi tahu hal-hal yang mungkin bisa terjadi. Dengan begitu, pasien mengetahui risiko yang dihadapi,' tuturnya. Pasien juga harus kontrol rutin ke dokter kandungan dan onkologi.

Sebagai upaya deteksi dini penyakit tersebut, Heru menyarankan wanita rajin merawat payudara. Sebab, kejadian kanker payudara dapat diobati dan sembuh total bila ditemukan dalam stadium dini. 'Sekitar 80 persen gejala kanker payudara disertai benjolan di payudara. Nah, rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri akan menekan angka kejadian kanker payudara. Bila perlu, periksa ke dokter atau cek dengan mamografi,' tandasnya. 
 

Minggu, 02 Maret 2014

Ternyata Jamur dapat mencegah Kanker Payudara



Ekstrak jamur sudah digunakan selama berabad-abad oleh pengobatan di Asia timur yang dipercaya dapat menghentikan sel-sel kanker payudara dari pertumbuhannya. Dr. Daniel Silva, seorang peneliti dari Institute Research Methodist di Indianapolis mengatakan bahwa ekstrak jamur menurunkan pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel kanker baru, menekan agresifitasnya dan menghambat pemberian makanan terhadap tumor dari pembuluh darah.

Percobaan laboratorium menggunakan sel-sel kanker payudara manusia menunjukkan bahwa jamur yang bernama Phellinus linteus memiliki petanda efek anti-kanker, kemungkinan dengan cara menghambat enzim yang bernama AKT.  AKT dikenal sebagai pengendali pada pertumbuhan sel-sel kanker.

Phellinus linteus, yang dikenal sebagai song gen pada pengobatan Cina, sang-hwang di Korea dan meshimakobu di Jepang, sebelumnya telah menunjukkan bahwa memiliki anti-tumor untuk sel-sel kanker kulit, paru bahkan prostat.

Penelitian terbaru pada kanker payudara tersebut, menandakan bahwa para peneliti mencoba mencari tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Beliau juga mengatakan bahwa pengetahuan ini belum dapat diterapkan ke dalam pengobatan modern, namun diharapkan penelitian tersebut dapat mendorong banyak peneliti lain untuk melakukan penelitian terhadap jamur tersebut sebagai penggunaannya sebagai pengobatan kanker.

sumber