Selasa, 18 Maret 2014

Waspadai Gejala Kanker Ovarium


Kanker Ovarium atau kanker indung telur seringkali terlupakan oleh kita. Padahal, kanker ovarium menduduki peringkat ketiga kanker tersering pada wanita setelah kanker payudara dan kanker serviks (leher rahim). Beberapa tokoh yang mengidap penyakit ini dan akhirnya tutup usia karena perjalanan penyakit ini adalah Ibu Ainun, istri Bapak Habibie dan Ibu dari artis Holywood Angelina Jolie. Bahkan, keputusan Angelina Jolie untuk melakukan operasi pengangkatan kedua payudaranya didasari karena kekuatirannya terhadap sejarah medis Ibunya yang mengidap kanker ovarium.
Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian nomor enam. Setiap tahun terdapat 100 kasus penderita kanker baru dari 100.000 penduduk di Indonesia. Salah satu kanker yang perlu diwaspadai adalah kanker ovarium.
Kanker ovarium ini sering terlupakan karena memang seringkali tidak memberikan gejala di awal-awal dan sampai saat ini belum ada metode deteksi dini yang mudah dilakukan seperti SADARI (periksa payudara sendiri) atau mamografi pada deteksi dini kanker payudara atau papsmear atau tes IVA (Inspeksi Asam Asetat) pada deteksi dini kanker serviks. Diperkirakan, sekitar 70% kasus kanker ovarium baru terdeteksi pada stadium lanjut (stadium 3 atau 4) karena gejala awalnya tidak khas.
Untuk mendiagnosis kanker ovarium, diperlukan serangkaian pemeriksaan dimulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan rongga panggul, pemeriksaan penanda kanker CA-125, ultrasonografi (USG) dan biposi jaringan.

Gejala Kanker Ovarium
Sebagai penyaring kewaspadaan, para wanita diharapkan untuk tidak meremehkan gejala-gejala ringan yang seringkali muncul dan menetap dalam waktu lama, karena gejala kanker ovarium pada stadium awal biasanya hanya berupa gejala-gejala ringan. Gejala kanker ovarium pada wanita yang perlu diwaspadai adalah:
  1. Perasaan kembung yang sering muncul, menetap dan tidak menghilang dalam waktu lama.
  2. Ukuran perut yang bertambah.
  3. Cepat merasa kenyang walau hanya makan sedikit.
  4. Sulit makan karena hilang nafsu makan, mual, dan rasa terbakar di dada.
  5. Nyeri perut.
  6. Nyeri daerah kewanitaan.
  7. Sering buang air kecil dan perubahan pola buang air besar.
  8. Mengalami rasa lelah berlebihan dan/atau nyeri punggung.
Kewaspadaan para wanita perlu semakin meningkat apabila terdapat anggota keluarga yang pernah didagnosis kanker payudara dan/atau kanker ovarium. Pada wanita-wanita yang pernah memiliki riwayat kanker payudara, kanker rahim, atau kanker usus juga perlu mewaspadai kanker ini karena risiko terjadi kanker ovarium semakin meningkat. Kejadian kanker ovarium juga meningkat pada wanita yang berusia di atas 55 tahun, tidak pernah hamil dan sedang menjalani terapi hormon estrogen saja selama lebih dari 10 tahun.

sumber

Selasa, 11 Maret 2014

Pasien Pengidap Kanker Payudara Kian Muda makin banyak

Saat ini Usia penderita kanker payudara kian muda saja dari tahun ke tahun. Kian banyak ditemukan pasien kanker payudara berumur 30-an. Pola makan serta gaya hidup tak sehat bisa jadi penyebabnya. 'Merokok dan mengonsumsi alkohol termasuk pola hidup tak sehat yang banyak dianut masyarakat kita, termasuk kaum perempuan,' kata dr Heru Purwanto SpB Onk, ahli penyakit kanker RSU dr Soetomo. Faktor tersebut diperparah pola makan tinggi lemak, namun minim serat. 

Dalam sebulan, Heru menyatakan menangani 2-3 pasien baru berusia sekitar 30 tahun. Bahkan, ada pasien kanker payudara berusia remaja yang berobat kepadanya. Tapi, jumlahnya tak banyak. 'Dalam setahun, mungkin hanya 2-3 pasien. Meski begitu, fenomena adanya pasien kanker payudara di kalangan remaja ini tetap patut diwaspadai,' imbuhnya. 

Menurut Heru, menderita kanker payudara pada usia muda tentu mengkhawatirkan. Sebab, berdasar literatur yang ada, kanker payudara pada pasien usia muda lebih ganas daripada pada wanita menopause. 'Sayangnya, belum ada penjelasan ilmiah tentang hal tersebut,' katanya.

Wanita yang menderita kanker pada usia 30-an tahun juga dianjurkan tidak hamil. Sebab, saat hamil, pengaruh hormonal tinggi. Kondisi itu bisa memicu kekambuhan. 'Sebaiknya diobati dulu. Jika sudah sembuh total, tiga tahun kemudian baru boleh hamil. Selama itu, pasien harus kontrol ketat ke dokter,' imbuhnya.

Bagaimana bila telanjur hamil Soal itu, Heru mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa. 'Sebaiknya pasien diberi tahu hal-hal yang mungkin bisa terjadi. Dengan begitu, pasien mengetahui risiko yang dihadapi,' tuturnya. Pasien juga harus kontrol rutin ke dokter kandungan dan onkologi.

Sebagai upaya deteksi dini penyakit tersebut, Heru menyarankan wanita rajin merawat payudara. Sebab, kejadian kanker payudara dapat diobati dan sembuh total bila ditemukan dalam stadium dini. 'Sekitar 80 persen gejala kanker payudara disertai benjolan di payudara. Nah, rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri akan menekan angka kejadian kanker payudara. Bila perlu, periksa ke dokter atau cek dengan mamografi,' tandasnya. 
 

Minggu, 02 Maret 2014

Ternyata Jamur dapat mencegah Kanker Payudara



Ekstrak jamur sudah digunakan selama berabad-abad oleh pengobatan di Asia timur yang dipercaya dapat menghentikan sel-sel kanker payudara dari pertumbuhannya. Dr. Daniel Silva, seorang peneliti dari Institute Research Methodist di Indianapolis mengatakan bahwa ekstrak jamur menurunkan pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel kanker baru, menekan agresifitasnya dan menghambat pemberian makanan terhadap tumor dari pembuluh darah.

Percobaan laboratorium menggunakan sel-sel kanker payudara manusia menunjukkan bahwa jamur yang bernama Phellinus linteus memiliki petanda efek anti-kanker, kemungkinan dengan cara menghambat enzim yang bernama AKT.  AKT dikenal sebagai pengendali pada pertumbuhan sel-sel kanker.

Phellinus linteus, yang dikenal sebagai song gen pada pengobatan Cina, sang-hwang di Korea dan meshimakobu di Jepang, sebelumnya telah menunjukkan bahwa memiliki anti-tumor untuk sel-sel kanker kulit, paru bahkan prostat.

Penelitian terbaru pada kanker payudara tersebut, menandakan bahwa para peneliti mencoba mencari tahu bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Beliau juga mengatakan bahwa pengetahuan ini belum dapat diterapkan ke dalam pengobatan modern, namun diharapkan penelitian tersebut dapat mendorong banyak peneliti lain untuk melakukan penelitian terhadap jamur tersebut sebagai penggunaannya sebagai pengobatan kanker.

sumber